Prajnaparamita https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p <p><strong>Jurnal Prajnaparamita</strong> Museum Nasional ini memuat artikel-artikel yang bertema museum, sejarah dan kebudayaan. Jurnal ini bertujuan sebagai sarana publikasi hasil pemikiran ilmiah; menginformasikan hasil kajian dan pengamatan terkait dengan museum, sejarah dan kebudayaan; meningkatkan penyebarluasan informasi khasanah budaya bangsa dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.</p> id-ID <p>Pihak yang ingin mengutip sebagian maupun seluruh isi buku dapat mencantumkan buku ini sebagai sumbernya.</p> <p>Isi di luar tanggung jawab penerbit dan menjadi tanggung jawab dari masing-masing penulis</p> <p>Tidak untuk diperjualbelikan</p> <p>Hak cipta dilindungi undang-undang Negara Kesatuan republik Indonesia</p> <p>Artikel/naskah ilmiah yang dimuat dalam Jurnal Museum Nasional belum pernah dipublikasikan sebelumnya di media apapun.</p> nurul.indrarini@gmail.com (Nurul Indrarini) mv.mukhlis1309@gmail.com (Muchlis Suharto) Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.6 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 BRANDING MUSEUM DI MEDIA SOSIAL: STUDI KASUS INSTAGRAM MUSEUM NASIONAL https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/54 <p>Perkembangan media sosial yang semakin cepat dapat dimanfaatkan museum untuk memperluas branding museum. Meskipun branding museum telah didiskusikan secara luas, diskusi mengenai penerapan branding museum di media sosial, khususnya Instagram, belum dibahas secara mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini bermaksud untuk mendiskusikan bagaimana museum mengaplikasikan <em>branding</em> di Instagram mereka. Penelitian ini menggunakan Instagram Museum Nasional sebagai studi kasus karena museum ini merupakan salah satu museum di Indonesia yang paling populer di Instagram. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten visual kualitatif yang berdasarkan pada teori perencanaan identitas brand yang digagas oleh Aaker (1996). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto yang dipublikasikan di <em>feed</em> Instagram Museum Nasional. Berdasarkan analisis yang dilakukan, ditemukan bahwa Museum Nasional menerapkan unsur-unsur branding dengan penerapan yang berbeda-beda. Penerapan ini mencakup beberapa elemen, yaitu cakupan produk, atribut produk, kualitas/nilai, kegunaan, pengguna, negara asal, atribut organisasi, lokal vs global, kepribadian, hubungan <em>brand</em>-pelanggan, citra visual dan metafora, serta <em>brand heritage</em>.</p> <p>Kata kunci: <em>branding</em>, sosial media, branding museum, Instagram, Museum Nasional</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Museums can use the rapid development of social media to expand museum branding. Although museum branding has been widely discussed, discussions regarding the application of museum branding on social media, especially Instagram, have not been discussed in depth. Therefore, this study intends to discuss how museums apply branding on their Instagram. This study uses the Indonesian National Museum’s Instagram account as a case study because this museum is one of the most popular Indonesian museums on Instagram. This study uses a qualitative visual content analysis method based on the brand identity planning theory suggested by Aaker (1996). The data used in this study are posts published on the Indonesian National Museum’s Instagram feed. Based on the analysis conducted, it was found that the Indonesian National Museum applies branding elements with different implementations. This application includes several elements: product scope, product attributes, quality/value, uses, users, country of origin, organizational attributes, local vs global, personality, brand-customer relationships, visual imagery and metaphor, and brand heritage.</em></p> <p><em>Keywords</em>: <em>branding</em><em>, social media, museum branding, Instagram, Indonesian National Museum</em></p> Intan Barroh Hak Cipta (c) 2022 Intan Barroh https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/54 Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000 CETAKAN VOTIVE TABLET MASA SRIWIJAYA https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/59 <p>Cetakan <em>votive tablet</em> adalah alat yang digunakan untuk membuat <em>votive tablet</em> biasanya terbuat dari perunggu atau timah yang bentuknya cukup kecil sehingga mudah dibawa-bawa. Cetakan <em>votive tablet</em> yang ditemukan di Palembang, Sumatra Selatan sejauh ini seluruhnya ditemukan oleh para penyelam di Sungai Musi dan tentunya sangat terkait dengan perkembangan agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7/10 Masehi. Permasalahan yang ingin diangkat adalah bagaimana aspek ikonografi pada cetakan votive tablet tersebut? Pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi dan studi pustaka sedangkan análisis akan menggunakan análisis ikonografi. Hasil analisis ikonografi menunjukkan bahwa relief Buddha/Boddhisattva pada cetakan <em>votive tablet</em> yang ditemukan di Palembang memiliki kemiripan dengan temuan votive tablet di India dan kawasan Asia Tenggara Daratan. Hal ini tentu menarik untuk mengkaji perkembangan Buddha di Nusantara dan hubungannya dengan India dan Asia Tenggara dilihat dari sudut ikonografi pada cetakan <em>votive table</em>tnya.</p> <p>Kata kunci: cetakan <em>votive tablet</em>, ikonografi, Asia Tenggara, Sriwijaya, Hindu, Buddha</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The mould of votive tablet is a tool used to make votive tablets, it usually made of bronze or tin which is small enough, thus it is easy to carry around. The mould of votive tablet found in Palembang, South Sumatra so far was entirely found by divers in the Musi River and is certainly closely related to the development of Buddhism in the Sriwijaya Kingdom around the 7th-10th century AD. The problem to be raised is related to what is the iconographic aspect of the mould of votive table? The data collection is conducted through observation, documentation and literature study, while the data analysis applies iconographic analysis. The results of the iconographic analysis show that the Buddha/ Boddhisattva reliefs on the mould of votive tablet found in Palembang have similarities with the findings of votive tablets in India and the Mainland Southeast Asia region. It is certainly interesting to examine the development of Buddhism in the archipelago and its relationship with India and Southeast Asia from the iconographic point of view on the mould of votive tablet.</em></p> <p><em>Keyword : mould of votive tablet, iconography, Southeast Asia, Sriwijaya</em>, <em>Hindu</em>, <em>Buddha</em></p> agustijanto indradjaja Hak Cipta (c) 2022 agustijanto indradjaja https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/59 Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000 MEMBACA LITOGRAFI TĚDHAK LOJI SEBAGAI DOKUMEN LAWATAN KENEGARAAN SULTAN HAMENGKU BUWONO VII https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/57 <p><em>Tědhak loji </em>merupakan lawatan kenegaraan yang dilakukan oleh sultan dan deretan Bangsawan Yogyakarta. Beberapa babad dan arsip mencatat peristiwa tersebut, namun tidak menjelaskan urutan dan kemegahan prosesinya. Kemudian, melalui arsip litografi karya <em>Raden B</em><em>ě</em><em>k</em><em>ě</em><em>l Djaj</em><em>ě</em><em>ng Soedirdjo </em>diketahui 113 kelompok yang berurutan saat peristiwa <em>tědhak loji</em> berlangsung. Di sisi lain, peristiwa tersebut tidak hanya sebagai seremoni kenegaraan tetapi juga representasi kekuasaan dari sultan sekaligus dokumentasi busana Bangsawan Yogyakarta.</p> <p>Melalui metode pembacaan arsip litograf dan kritik sumber, intepretasi, hingga historiografi, lukisan gulung koleksi Museum Sonobudoyo dibedah sebagai arsip primer. Hasil dari tulisan ini selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksi kemegahan peristiwa <em>t</em><em>ědhak loji</em> sekaligus membaca berbagai simbol kekuasaan dan busana yang terdapat dalam visual tersebut. Di sisi lain, kajian ini mampu menjadi sumber pertama yang merekonstruksi tata urutan <em>tědhak loji </em>secara detil yang tidak diungkapkan dalam arsip-arsip tulis.</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><em>Tědhak loji </em>merupakan lawatan kenegaraan yang dilakukan oleh sultan dan para bangsawan Yogyakarta. Beberapa babad dan arsip mencatat peristiwa tersebut, tetapi tidak menjelaskan urutan dan kemegahan prosesinya. Kemudian, melalui arsip litografi karya <em>Raden B</em><em>ě</em><em>k</em><em>ě</em><em>l Djaj</em><em>ě</em><em>ng Soedirdjo </em>diketahui 113 kelompok yang berurutan saat peristiwa <em>tědhak loji</em> berlangsung. Di sisi lain, peristiwa tersebut tidak hanya sebagai seremoni kenegaraan, tetapi juga representasi kekuasaan dari sultan sekaligus dokumentasi busana bangsawan Yogyakarta. Melalui metode pembacaan arsip litograf dan kritik sumber, intepretasi, hingga historiografi, lukisan gulung koleksi Museum Sonobudoyo dibedah sebagai arsip primer. Hasil dari tulisan ini selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksi kemegahan peristiwa <em>t</em><em>ědhak loji</em> sekaligus membaca berbagai simbol kekuasaan dan busana yang terdapat dalam visual tersebut. Di sisi lain, kajian ini mampu menjadi rujukan dalam merekonstruksi tata urutan <em>tědhak loji </em>secara detail yang tidak diungkapkan dalam arsip-arsip tulis.</p> <p>Kata kunci: <em>Tědhak loji, </em>Kunjungan Kenegaraan, Sultan Hamengku Buwana VII, Litografi, Keraton Yogyakarta</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Tědhak loji is a royal visit carried out by the sultan and a row of nobles of Yogyakarta. Several chronicles and archives record the events but do not explain the sequence and grandeur of the procession. Then, through the lithographic archive by Raden Běkěl Djajěng Soedirdjo, it was discovered that 113 successive groups occurred during the tědhak loji moment. On the other hand, the event was not only a royal ceremony but also a representation of the power of the sultan as well as documentation of the Yogyakarta nobility's clothing. Through the method of reading lithograph archives and source criticism, interpretation, to historiography, the scroll paintings from the Sonobudoyo Museum collection were dissected as primary archives. The results of this paper can then be used to reconstruct the grandeur of the tědhak loji event as well as to read the various symbols of power and clothing contained in the visual. On the other hand, this study can become the first source to reconstruct the order of tědhak loji in detail that is not disclosed in written archives.</em></p> <p><em>Keywords: Tědhak loji, Royal Visit, Sultan Hamengku Buwana VII</em><em>, lithography, </em>Keraton Yogyakarta</p> Fajar Wijanarko Hak Cipta (c) 2022 Fajar Wijanarko https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/57 Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000 STRATEGI KOMODIFIKASI TATA PAMER MUSEUM ADITYAWARMAN SUMATRA BARAT DALAM PERSPEKTIF KAJIAN BUDAYA https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/60 <p>Koleksi Museum Adityawarman merupakan warisan budaya yang menjadi aset bagi Pemerintah Daerah Sumatra Barat, koleksi menjadi objek dalam proses pembelajaran dan pemindahan pesan dari pengetahuan dan kearifan masyarakat sebelumnya kepada masyarakat sekarang. Koleksi Museum Adityawarman berjumlah 6.264 buah sebagai perwakilan dari identitas budaya dan mengandung makna mulia kebudayaan masyarakat di Sumatra Barat. Penelitian ini membedakan <em>cultural studies </em>dari cakupan subjek-subjek dan melihat kaitan komodifikasi dan indikator lain yang ada dalam tata pamer. Proses penataan ulang menjadi sarana untuk menarik kembali pengunjung dengan menampilan ruang pamer baru di museum. Ruang pamer yang baru hanya bisa menjalankan fungsi ruang, belum bisa menjadi strategi yang ideal untuk mewujudkan ruang pamer yang punya nilai jual. Fungsi ruang pamer yang selalu berubah sesuai dengan kebutuhan kepentingan menunjukkan ketidakkonsistenan pengelolaan dalam melakukan penataan ruang pamer. Menafsirkan museum sebagai lembaga nonprofit seharusnya juga tidak diterjemahkan secara sempit sehingga membuat museum itu membatasi ruang geraknya untuk berkembang. Selain itu, konsep pemahaman pengelola dalam menampilkan tata pamer merupakan komoditas tata pamer yang lebih komersial.</p> <p>Kata kunci : Komodifikasi, Tata Pamer, dan Museum</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The collection </em><em>of </em><em>Adityawarman Museum is a cultural heritage that is an asset for the West Sumatra Regional Government</em><em>.</em> <em>T</em><em>he collection becomes an object in the learning process and transferring messages </em><em>of knowledge and </em><em>wisdom of the community from </em><em>the </em><em>previous </em><em>society </em><em>and to </em><em>the current</em><em> society. The collection of the Adityawarman Museum </em><em>consists of</em><em> 6,264 pieces </em><em>representing</em><em> cultural identity and contain</em><em>ing</em><em> the noble meaning of the culture of the people in West Sumatra</em><em>.</em> <em>T</em><em>his study distinguish</em><em>es</em><em> cultural studies from the scope of subjects and seeing the relationship between commodification and other indicators in the exhibition system. The rearrangement process is a means to attract visitors by displaying a new exhibition space in the museum. The function of the showroom which is always changing according to the needs of the interests shows the inconsisten</em><em>cy</em> <em>of </em><em>management in structuring the showroom. Interpreting a museum as a non-profit institution should also not be interpreted narrowly</em><em>, thus</em> <em>it</em><em> make</em><em>s</em><em> the museum limit its </em><em>scope</em><em> to develop</em><em>.</em> <em>In addition, t</em><em>he </em><em>management’s </em><em>concept of understanding </em><em>in </em><em>displaying exhibition </em><em>becomes</em><em> a more commercial commodity </em><em>in the </em><em>exhibition system.</em></p> <p><em>Keywords</em> : <em>Comodification, Exhibition, Museum</em></p> vandrowis darwis Hak Cipta (c) 2022 vandrowis darwis https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/60 Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000 KELUAR DARI KRISIS (MALAISE): KISAH INDUSTRI KERAJINAN DI KOTAGEDE YOGYAKARTA TAHUN 1929-1940 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/51 <p>Dapat dipahami bahwa keberadaan industri kerajinan di wilayah Kotagede membawa kemandirian ekonomi bagi masyarakatnya. Motivasi tersebut kemudian berpengaruh besar terhadap kondisi sosial - ekonomi, lebih lanjut dalam membuka pengaruh ekonomi dunia yang lebih luas di tingkat lokal masyarakat Kotagede. Hal ini yang kemudian menjadi latar belakang pemilihan topik penelitian. Penelitian ini mengkaji mengenai adaptasi yang dilakukan pengusaha industri kerajinan Kotagede di tengah krisis (<em>malaise</em>). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Menggunakan berbagai sumber, penelitian ini menunjukkan bahwa Kotagede sebagai lokasi bekas ibukota Kerajaan Mataram Islam dengan berbagai fasilitas yang ada telah menjadi titik berkembangnya industri kerajinan (kerajinan emas, perak, tembaga, besi, tanduk, batik, tenun, dan lain sebagainya). <em>Enterpreneur </em>di Kotagede benar-benar tekun, ulet, dan pantang menyerah untuk membangun suatu masyarakat yang makmur. Lebih lanjut dengan demikian penelitian ini menunjukkan industri kerajinan dan perdagangan di Kotagede mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga industri ini mampu bertahan pada masa terjadinya krisis ekonomi <em>malaise</em>.</p> <p>Kata kunci: Krisis, Industri, Kerajinan, Masyarakat, Kotagede</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>It can be understood that the existence of the handicraft industry in the Kotagede area brings economic independence to the people. This motivation then has a major influence on socio-economic conditions, furthermore in opening the wider world economic influence at the local level of the Kotagede community. This then becomes the background for selecting the research topic. This study examines the adaptation of the Kotagede handicraft industry entrepreneurs in the midst of a crisis (malaise). The method used in this research is the historical method which consists of four stages, namely heuristics, verification, interpretation, and historiography. Using various sources, this research shows that Kotagede as the location of the former capital of the Islamic Mataram Kingdom with various existing facilities has become a point of development for the craft industry (gold, silver, copper, iron, horn, batik, weaving, and so on) crafts. Entrepreneurs in Kotagede are really diligent, tenacious, and never give up to build a prosperous society. Furthermore, this research shows that the handicraft and trade industry in Kotagede has developed quite rapidly, so that this industry is able to survive during the malaise economic crisis.</em></p> <p><em>Keywords: Crisis, Industry, Crafts, Society, Kotagede</em></p> nanang setiawan Hak Cipta (c) 2022 nanang setiawan https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/51 Tue, 27 Sep 2022 00:00:00 +0000