https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/issue/feed Prajnaparamita 2021-12-01T00:00:00+00:00 Nurul Indrarini nurul.indrarini@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Jurnal Prajnaparamita</strong> Museum Nasional ini memuat artikel-artikel yang bertema museum, sejarah dan kebudayaan. Jurnal ini bertujuan sebagai sarana publikasi hasil pemikiran ilmiah; menginformasikan hasil kajian dan pengamatan terkait dengan museum, sejarah dan kebudayaan; meningkatkan penyebarluasan informasi khasanah budaya bangsa dan meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.</p> https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/41 KAJIAN PENDAHULUAN EFEKTIVITAS DESIKAN PADA VITRIN DI RUANG PAMER LANTAI 3 GEDUNG B MUSEUM NASIONAL 2021-10-14T07:40:52+00:00 Maulidha Sinta Dewi sinta122483@gmail.com Baninka Azhim Askari baninka.azhim@kemdikbud.go.id <h1>Kelembapan relatif (<em>relative humidity</em> [RH]) merupakan salah satu penyebab penurunan mutu (deteriorasi) koleksi di museum. RH dapat dikendalikan secara aktif menggunakan sistem tata udara (HVAC) atau secara pasif menggunakan desikan. Kajian ini menunjukkan bagaimana efektivitas desikan-desikan yang digunakan di Museum Nasional: gel silika biru lokal (baru dan rekondisi), gel silika oranye dengan pelembap, dan bentonit (Desi Pak®). Kajian dilakukan di ruang pamer lantai 3 Gedung B Museum Nasional untuk melihat kemampuan desikan dalam mengendalikan RH di dalam vitrin. Aspek-aspek, seperti kandungan bahan kimia, harga, dan kemampuan untuk penggunaan ulang menjadi beberapa faktor yang dikaji berdasarkan studi literatur dan lapangan. Kajian ini menunjukkan bahwa setiap jenis desikan efektif mengendalikan RH dalam vitrin dengan catatan jumlah yang digunakan harus dihitung sesuai kondisi lingkungan berdasarkan rumus yang dikembangkan oleh Weintraub (2002).</h1> 2021-12-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2021 Maulidha Sinta Dewi, Baninka Azhim Askari https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/43 PENERAPAN ETIKA KONSERVASI DALAM RESTORASI MINIATUR RUMAH TRADISIONAL NIAS: MELESTARIKAN ARSITEKTUR TRADISIONAL TAHAN GEMPA 2021-10-14T07:33:07+00:00 Dian Novita Lestari diannovitaconserv@gmail.com Farah Dhita Hasanah farahdhitahasanah@gmail.com <p>Indonesia memiliki arsitektur rumah tradisional yang sangat beragam. Namun, keberadaan bangunan tradisional Indonesia sudah semakin berkurang karena tergerus modernisasi. Salah satu upaya pelestarian yang dilakukan oleh Museum Nasional Indonesia adalah dengan mempertahankan bentuk arsitektur tradisional dalam bentuk miniatur koleksi. Miniatur ini memiliki fungsi sebagai representasi dari rumah asli di daerah asalnya. Dalam tulisan ini dijabarkan proses restorasi dua koleksi miniatur rumah tradisional yang terdapat di Museum Nasional, yaitu rumah tradisional Nias Utara dan Nias Selatan. Tahapan restorasi yang dilakukan mengikuti etika konservasi sehingga fisik koleksi dapat dipertahankan tanpa mengubah struktur asli bangunan yang seharusnya ada. Pelaksanaan restorasi diawali dengan mengumpulkan informasi mengenai bentuk koleksi sebelum kerusakan melalui pencarian data berupa foto, laporan kurasi, atau konservasi terdahulu. Informasi mengenai struktur dan material bangunan diperkuat dengan pencarian referensi yang sesuai. Restorasi miniatur rumah tradisional di Museum Nasional bertujuan untuk mengembalikan bentuk fisik bangunan arsitektur tradisional guna melestarikan fungsi-fungsi yang melekat padanya, seperti informasi mengenai keunikan arsitekturnya dan struktur tahan gempa. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam penerapan etika konservasi yang harus dipatuhi dalam melakukan restorasi, khususnya dalam preservasi arsitektur tradisional.</p> 2021-12-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2021 Dian Novita Lestari, Farah Dhita Hasanah https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/44 PENATAAN ARTEFAK DI MUSEUM KONFERENSI ASIA-AFRIKA SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS NASIONAL 2021-10-14T08:31:40+00:00 Afina Fatharani afinafatharani@gmail.com <p><strong><em> </em></strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penataan artefak di museum dapat merepresentasikan dan memunculkan kesadaran identitas nasional. Studi kasus dilakukan di Museum Konferensi Asia-Afrika yang memiliki tema sejarah konferensi internasional pertama bagi bangsa-bangsa “kulit berwarna”. Museum yang dibangun di suatu negara cenderung menunjukkan identitas nasionalnya untuk melegitimasi kekuatan bangsa. Terdapat lima aspek yang memengaruhi bagaimana museum dapat mewakili identitas nasional, seperti tema museum, artefak, narasi pada ruang pameran, konsep identitas nasional, dan yang terakhir adalah regulasi sekaligus visi museum. Dalam menjawab pertanyaan utama penelitian, penulis menggunakan metode kualitatif, sehingga ditemukan pengetahuan mendalam dari hasil wawancara dengan informan. Penelitian ini menemukan bahwa konsepsi identitas nasional dari staf museum yang bertanggung jawab dalam penataan artefak bersifat konstruktif. Identitas nasional adalah bentuk imajinatif dari seluruh komunitas yang ada dalam suatu bangsa. Itulah yang diilustrasikan kurator melalui penataan dan pengorganisasian artefak dengan merepresentasikan peristiwa sejarah bangsa, simbol-simbol bangsa, serta ideologi nasional di ruang pameran Museum Konferensi Asia-Afrika.</p> 2021-12-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2021 Afina Fatharani https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/48 PENYAMPAIAN MAKNA KOLEKSI PATUNG SIGALE-GALE; DULU DAN KEKINIAN 2021-10-26T03:23:36+00:00 Tiomsi Sitorus tiomsisitorus24@gmail.com <p>Patung <em>sigale-gale</em> merupakan kearifan lokal suku Batak yang berasal dari Kabupaten Samosir dan kemudian kisahnya tersebar ke daerah-daerah di sekitarnya. Secara sekilas patung <em>sigale-gale</em> tidak ada bedanya dengan patung leluhur suku Batak lainnya. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas kisah yang melatarbelakangi pembuatan patung <em>sigale-gale, </em>perbandingan fungsi dan bentuk dari awal sampai sekarang, serta pesan moral yang disampaikan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka menggunakan metode komparatif. Ilmu pengetahuan serta teknologi bersifat dinamis sehingga membawa perubahan bagi setiap masyarakat pendukungnya. Demikian juga dengan suku Batak, masuknya agama serta adanya modernisasi telah memengaruhi tradisi dan budayanya. Saat ini patung <em>sigale-gale</em> mengalami perubahan bentuk akibat dari kemajuan teknologi, sedangkan perubahan fungsi disebabkan oleh masuk dan berkembangnya agama, khususnya di wilayah Kabupaten Samosir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa meskipun terdapat perubahan dalam bentuk dan fungsi patung <em>sigale-gale</em>, tetapi pesan moral yang disampaikan tetap relevan sampai saat ini, bahkan untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.</p> 2021-12-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2021 Tiomsi Sitorus https://jurnalmuseum.kemdikbud.go.id/index.php/p/article/view/49 KUDA JAWA DAN GAJAH SIAM PEREKAT HUBUNGAN JAWA-SIAM 2021-10-14T08:23:49+00:00 nunus supardi nunus.supardii@gmail.com <p>Negeri Siam atau Thailand sekarang, sangat tertarik pada kebudayaan Nusantara, khususnya Jawa. Tarian, musik, batik, cerita Panji, dan bahasa Jawa sangat dikenal di Siam. Di Siam cerita Panji dari Kediri telah diperlakukan sebagai cerita drama yang disakralkan dengan dengan nama, Inao. Selain tertarik pada mata dagang rempah-rempah, kayu cendana, dan kapur barus, ternyata Siam juga tertarik pada kuda Jawa. Masalahnya, belum banyak orang yang mengetahui bahwa kuda Jawa juga pernah menjadi mata dagang yang penting. Selain itu, belum banyak diketahui bahwa kuda juga dijadikan cenderamata bergengsi untuk diberikan kepada Raja Siam. Sebaliknya, Raja Siam menjadikan hewan gajah yang dimitoskan sebagai hewan suci sebagai cenderamata untuk Raja Jawa. Tujuan kajian ini adalah agar masalah jual-beli dan saling tukar cenderamata kuda dan gajah antara Jawa-Siam dapat membuka wawasan kita bahwa kuda dan gajah menjadi benih dalam membangun persahabatan kedua bangsa. Melalui metode kajian berdasarkan pada sumber pustaka di Siam dan VOC serta sumber lainnya diketahui bahwa selain budaya, sejak beberapa abad yang lalu kuda Jawa telah ikut menjadi daya tarik bagi raja-raja Siam untuk datang ke Jawa. Sebaliknya, Siam menjadikan gajah sebagai cenderamata bagi Jawa. Kedua hewan itu telah ikut menjadi “lem perekat” bagi kedekatan hubungan antara kedua bangsa dari dulu hingga kini.</p> 2021-12-01T00:00:00+00:00 Hak Cipta (c) 2021 nunus supardi