MEMBACA LITOGRAFI TĚDHAK LOJI SEBAGAI DOKUMEN LAWATAN KENEGARAAN SULTAN HAMENGKU BUWONO VII

Penulis

  • Fajar Wijanarko Museum Sonobudoyo

DOI:

https://doi.org/10.54519/prj.v11i1.57

Kata Kunci:

Tedhak loji, Lawatan Kenegaraan, Sultan Hamengku Buwono VII

Abstrak

Tědhak loji merupakan lawatan kenegaraan yang dilakukan oleh sultan dan deretan Bangsawan Yogyakarta. Beberapa babad dan arsip mencatat peristiwa tersebut, namun tidak menjelaskan urutan dan kemegahan prosesinya. Kemudian, melalui arsip litografi karya Raden Běkěl Djajěng Soedirdjo diketahui 113 kelompok yang berurutan saat peristiwa tědhak loji berlangsung. Di sisi lain, peristiwa tersebut tidak hanya sebagai seremoni kenegaraan tetapi juga representasi kekuasaan dari sultan sekaligus dokumentasi busana Bangsawan Yogyakarta.

Melalui metode pembacaan arsip litograf dan kritik sumber, intepretasi, hingga historiografi, lukisan gulung koleksi Museum Sonobudoyo dibedah sebagai arsip primer. Hasil dari tulisan ini selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksi kemegahan peristiwa tědhak loji sekaligus membaca berbagai simbol kekuasaan dan busana yang terdapat dalam visual tersebut. Di sisi lain, kajian ini mampu menjadi sumber pertama yang merekonstruksi tata urutan tědhak loji secara detil yang tidak diungkapkan dalam arsip-arsip tulis.

Abstrak

Tědhak loji merupakan lawatan kenegaraan yang dilakukan oleh sultan dan para bangsawan Yogyakarta. Beberapa babad dan arsip mencatat peristiwa tersebut, tetapi tidak menjelaskan urutan dan kemegahan prosesinya. Kemudian, melalui arsip litografi karya Raden Běkěl Djajěng Soedirdjo diketahui 113 kelompok yang berurutan saat peristiwa tědhak loji berlangsung. Di sisi lain, peristiwa tersebut tidak hanya sebagai seremoni kenegaraan, tetapi juga representasi kekuasaan dari sultan sekaligus dokumentasi busana bangsawan Yogyakarta. Melalui metode pembacaan arsip litograf dan kritik sumber, intepretasi, hingga historiografi, lukisan gulung koleksi Museum Sonobudoyo dibedah sebagai arsip primer. Hasil dari tulisan ini selanjutnya dapat digunakan untuk merekonstruksi kemegahan peristiwa tědhak loji sekaligus membaca berbagai simbol kekuasaan dan busana yang terdapat dalam visual tersebut. Di sisi lain, kajian ini mampu menjadi rujukan dalam  merekonstruksi tata urutan tědhak loji secara detail yang tidak diungkapkan dalam arsip-arsip tulis.

Kata kunci: Tědhak loji, Kunjungan Kenegaraan, Sultan Hamengku Buwana VII, Litografi, Keraton Yogyakarta

 

Abstract

Tědhak loji is a royal visit carried out by the sultan and a row of nobles of Yogyakarta. Several chronicles and archives record the events but do not explain the sequence and grandeur of the procession. Then, through the lithographic archive by Raden Běkěl Djajěng Soedirdjo, it was discovered that 113 successive groups occurred during the tědhak loji moment. On the other hand, the event was not only a royal ceremony but also a representation of the power of the sultan as well as documentation of the Yogyakarta nobility's clothing. Through the method of reading lithograph archives and source criticism, interpretation, to historiography, the scroll paintings from the Sonobudoyo Museum collection were dissected as primary archives. The results of this paper can then be used to reconstruct the grandeur of the tědhak loji event as well as to read the various symbols of power and clothing contained in the visual. On the other hand, this study can become the first source to reconstruct the order of tědhak loji in detail that is not disclosed in written archives.

Keywords: Tědhak loji, Royal Visit, Sultan Hamengku Buwana VII, lithography, Keraton Yogyakarta

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Apriyadi, Clara Sinta. 2021. “Tradisi Penyambutan dan Penghormatan Tamu di Keraton Yogyakarta sebagai Bentuk Pola Relasi Pada Masa Pemerintahan Hamengku Buwana VII dalam Naskah Koepija Djendralan” Tesis di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok.

Garraghan, Gilbert J. 1957. A Guide To Historical Method, Fordham University Press, New York.

Greeetz, Clifford. 1980. Negara: The Theatre State in Nineteenth-Century Bali. New Jersey: Princeton University Press.

Hoed, Benny H. 2014. Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Ismaun. 1992. Pengantar Ilmu Sejarah. Bandung: Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS IKIB Bandung.

Kuntowijoyo. 2005. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.

Margana, dkk. 2018. Sultan Hamengku Buwana VII & Kedaton Ambarrukmo. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Poerwadarminta. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters Uitgebers Maatschappij.

Pramutomo. 2009. Tari, Seremoni, dan Politik Kolonial (I). Solo: ISI Press Solo.

Sunardi, ST. 2004. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik.

Tim. 2009. Prajurit Kraton Yogyakarta: Filosofi dan Nilai Budaya yang Terkandung di dalamnya. Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Arsip dan Manuskrip

Babad Ngayogyakarta: HB II - HB V, PBA.280, Koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Babad Ngayogyakarta HB IV - HBV, SK 169, Koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Lukisan gulung litografi tědhak loji, Koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. 2019. Senarai Arsip KHP Widya Budaya, Yogyakarta.

Majalah

Hoedyana-wara, Dwara-warta, Keraton Yogyakarta, Tahun 1, Angka 3, September 1941.

Hoedyana-wara, Dwara-warta, Keraton Yogyakarta, Tahun 1, Angka 4, Oktober 1941.

Unduhan

Diterbitkan

09/27/2022

Cara Mengutip

Wijanarko, F. (2022). MEMBACA LITOGRAFI TĚDHAK LOJI SEBAGAI DOKUMEN LAWATAN KENEGARAAN SULTAN HAMENGKU BUWONO VII. Prajnaparamita, 11(1), 22–36. https://doi.org/10.54519/prj.v11i1.57