KELUAR DARI KRISIS (MALAISE): KISAH INDUSTRI KERAJINAN DI KOTAGEDE YOGYAKARTA TAHUN 1929-1940

Penulis

  • nanang setiawan Universitas Negri Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.54519/prj.v11i1.51

Kata Kunci:

Krisis, Malaise, Kotagede

Abstrak

Dapat dipahami bahwa keberadaan industri kerajinan di wilayah Kotagede membawa kemandirian ekonomi bagi masyarakatnya. Motivasi tersebut kemudian berpengaruh besar terhadap kondisi sosial - ekonomi, lebih lanjut dalam membuka pengaruh ekonomi dunia yang lebih luas di tingkat lokal masyarakat Kotagede. Hal ini yang kemudian menjadi latar belakang pemilihan topik penelitian. Penelitian ini mengkaji mengenai adaptasi yang dilakukan pengusaha industri kerajinan Kotagede di tengah krisis (malaise). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari empat tahap yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Menggunakan berbagai sumber, penelitian ini menunjukkan bahwa Kotagede sebagai lokasi bekas ibukota Kerajaan Mataram Islam dengan berbagai fasilitas yang ada telah menjadi titik berkembangnya industri kerajinan (kerajinan emas, perak, tembaga, besi, tanduk, batik, tenun, dan lain sebagainya). Enterpreneur di Kotagede benar-benar tekun, ulet, dan pantang menyerah untuk membangun suatu masyarakat yang makmur. Lebih lanjut dengan demikian penelitian ini menunjukkan industri kerajinan dan perdagangan di Kotagede mengalami perkembangan yang cukup pesat, sehingga industri ini mampu bertahan pada masa terjadinya krisis ekonomi malaise.

Kata kunci: Krisis, Industri, Kerajinan, Masyarakat, Kotagede

 

Abstract

It can be understood that the existence of the handicraft industry in the Kotagede area brings economic independence to the people. This motivation then has a major influence on socio-economic conditions, furthermore in opening the wider world economic influence at the local level of the Kotagede community. This then becomes the background for selecting the research topic. This study examines the adaptation of the Kotagede handicraft industry entrepreneurs in the midst of a crisis (malaise). The method used in this research is the historical method which consists of four stages, namely heuristics, verification, interpretation, and historiography. Using various sources, this research shows that Kotagede as the location of the former capital of the Islamic Mataram Kingdom with various existing facilities has become a point of development for the craft industry (gold, silver, copper, iron, horn, batik, weaving, and so on) crafts. Entrepreneurs in Kotagede are really diligent, tenacious, and never give up to build a prosperous society. Furthermore, this research shows that the handicraft and trade industry in Kotagede has developed quite rapidly, so that this industry is able to survive during the malaise economic crisis.

Keywords: Crisis, Industry, Crafts, Society, Kotagede

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Afriyanto, Deny Setya. (tanpa tahun). Buku Panduan Museum Kotagede Intro Living Museum. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Burger, D. H. (1962). Sejarah Ekonomi Sosiologis Indonesia Jilid I. Jakarta: Pradnya Pramita.

Colobijn, Freek, dkk., (2005). Kota Lama, Kota Baru Sejarah Kota-Kota di Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan. Yogyakarta: Ombak.

Daliman, A. (2000). Peranan Industri Seni Kerajinan Perak di Daerah Istimewa Yogyakarta Sebagai Pendukung Pariwisata Budaya”, Humaniora, XII (2).

Gazalba, Sidi. (1966). Pengantar Sejarah Sebagai Ilmu. Jakarata: Baharata.

Graf, H.J de dan Th Pigeaud. (2019). Kerajaan Islam Pertama di Jawa Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Cetakan V Edisi Revisi. Jakarta: Mata Bangsa Bekerja Sama Dengan KITLV.

Jayanti, Arum. (2021). Toponimi Nama-nama Kampung di Kotagede. Batara, 7 (1), 35-45.

Kartodirdjo, Sartono. 1983. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Kuntowijoyo. (2013). Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Laporan Hasil Penelitian Antropologis. (1973). Orang-Orang Golongan Kalang. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Litiloly, Muhammad Khadafi. (2019). Studi Morfologi Kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta. Jurnal Arsitektur Komposisi, 12 (3), 211-224.

Martanti, Yetti dkk., (2022). Dibalik Kisah Kotagede: Toponim Kampung-Kampung di Kotagede. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Mook, H. J. Van., (1972). Kuta Gede, terjemahan, Harsja Bahtiar. Jakarta: Bhratara.

Nakamura, Mitsuo. (1983). Bulan Sabit Muncul dari Bbalik Pohon Beringin. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Narwoko, Dwi dan Banbang Suyanto. (2004). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media.

Pusat Studi Kebudayaan. (2020). Toponimi Kecamatan Kotagede: Sejarah dan Asal-Usul Nama-Nama Kampung. Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Gadjah Mada

Raap, Oliverier Johannes. (2013). Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe. Yogyakarta: Galang Pustaka.

Setiawan, Nanang. (2017). Dampak Sosial Ekonomi Transportasi Kereta Api Yogyakarta-Pundong teradap Masyarakat Kotagede Tahun 1917-1942. Skripsi, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Soekiman, Djoko. (1993). Kotagede. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan.

Soeprapto, dkk., (1997). Kotagede: Pesona dan Dinamika Sejarahnya. Yogyakarta: Lembaga Studi Jawa.

Suhartono. (1991). Apanage dan Bekel Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta 1830-1920. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sulistyowati, Nur Aini. (2011). Dari Tanah Sultan Menuju Tanah Rakyat: Pola Pemilikan Penguasaan dan Sengketa Tanah di Kota Yogyakarta Setelah Reorganisasi 1917. Yogyakarta: STPN Press.

Sulistyowati, Nur Aini dan Heri Priyatmoko. (2019). Toponim Kotagede. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan kebudayaan.

Sumintarsih dan Ambar Adrianto. (2014). Dinamika Kampung Kota Prawirotaman Dalam Prespektif Sejarah dan Budaya. Yogyakarta: Badan PNB.

Wahid, Abdul. (2009). Bertahan di Tengah Krisis: Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon. Yogyakarta: Ombak.

Zubair, Achmad Charis. (2009). Ensiklopedi Kotagede. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Later, J.F.H.A. (1917). N.I.S-Zaken, De Indier, 23 Mei, hlm. 1.

Wybranes, K. (1907). Ook een Middel van Bestaan. Het Niews van Den Dag voor Nederlandsch-Indie, 10 September, hlm. 2.

Unduhan

Diterbitkan

09/27/2022

Cara Mengutip

setiawan, nanang. (2022). KELUAR DARI KRISIS (MALAISE): KISAH INDUSTRI KERAJINAN DI KOTAGEDE YOGYAKARTA TAHUN 1929-1940. Prajnaparamita, 11(1), 49–61. https://doi.org/10.54519/prj.v11i1.51