PENATAAN ARTEFAK DI MUSEUM KONFERENSI ASIA-AFRIKA SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS NASIONAL

Penulis

  • Afina Fatharani -

DOI:

https://doi.org/10.54519/prj.v10i2.44

Kata Kunci:

Museum, Identitas Nasional, Artefak

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penataan artefak di museum dapat merepresentasikan dan memunculkan kesadaran identitas nasional. Studi kasus dilakukan di Museum Konferensi Asia-Afrika yang memiliki tema sejarah konferensi internasional pertama bagi bangsa-bangsa “kulit berwarna”. Museum yang dibangun di suatu negara cenderung menunjukkan identitas nasionalnya untuk melegitimasi kekuatan bangsa. Terdapat lima aspek yang memengaruhi bagaimana museum dapat mewakili identitas nasional, seperti tema museum, artefak, narasi pada ruang pameran, konsep identitas nasional, dan yang terakhir adalah regulasi sekaligus visi museum. Dalam menjawab pertanyaan utama penelitian, penulis menggunakan metode kualitatif, sehingga ditemukan pengetahuan mendalam dari hasil wawancara dengan informan. Penelitian ini menemukan bahwa konsepsi identitas nasional dari staf museum yang bertanggung jawab dalam penataan artefak bersifat konstruktif. Identitas nasional adalah bentuk imajinatif dari seluruh komunitas yang ada dalam suatu bangsa. Itulah yang diilustrasikan kurator melalui penataan dan pengorganisasian artefak dengan merepresentasikan peristiwa sejarah bangsa, simbol-simbol bangsa, serta ideologi nasional di ruang pameran Museum Konferensi Asia-Afrika.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Abdulgani, Roeslan. (1980). The Bandung Connection. Jakarta : Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Adamson, Walter L. (1980). Hegemony and Revolution: a Study of Antonio Gramsci’s Political and Cultural Theory. California: University of California Press.

Anderson, Benedict. (2006). Imagined community: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. London: Verso.

Barnard, Alan, dan Spencer. (2002). Encyclopedia of Social and Cultural Anthropology. London: Routledge.

Bouquet, Marry (Ed). (2001). Academic Anthropology and the Museum. Oxford: Berghahn Books.

______. (2012). Museums, A Visual Anthropology. London : Berghahn Books.

Burke, Peter J., dan Jan E Stets. (2009). Identity Theory. Oxford: Oxford University Press.

Casaliggi, Carmen, dan Porscha Fermanis. (2016). Romanticism a Literary and Cultural History. New York: Routledge.

Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri. (2015). Pamflet Museum of The Asian-African Conference. Jakarta: Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Eriksen, Hylland Thomas. (1993). Ethnicity & Nationalism, Anthropological Perspectives. London: Pluto Press.

Fowle, Kate. (2010). Who Cares? Understanding the Role of The Curator. Dalam Cautionary Tales: Critical Curating pp (26-35). New York: Apexart.

Hall, Stuart (ed). (1996). Modernity: An Introduction to Modern Societies. Oxford: Blackwell.

Hasinoff, Erin. (2010). Franz Boas and the Missionary Exhibit. History of Anthropology Newsletter Vol 37.2 (Dec 2010). Philadelphia: University of Pennsylvania.

Kaplan, Flora Edouwaye S. (2011). Making and Remaking National Identities. In a Companion to Museum Studies, Edited by Sharon Macdonald, 152-169. Malden, MA: Wiley-Blackwell.

Prawirosusanto, Marsanto Khidir. (2008). Gedung-Gedung Bercerita : Sejarah, Klasifikasi, dan Politik Representasi Enam Museum di Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Richardson, Shelby. (2010). Curatorial Practice in Anthropology: Organized Space and Knowledge Production. Thesis. Victoria: Department of Anthropology, The Ontario College of Art and Design University.

Unduhan

Diterbitkan

12/01/2021

Cara Mengutip

Fatharani, A. (2021). PENATAAN ARTEFAK DI MUSEUM KONFERENSI ASIA-AFRIKA SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS NASIONAL. Prajnaparamita, 10(2). https://doi.org/10.54519/prj.v10i2.44